Sabtu, 20 Desember 2014

TERIMA KASIH RINDU

Diposting oleh Unknown di 23.11 0 komentar


TERIMA KASIH RINDU
Dinda Rizkyta  
Kutuliskan surat untukmu siang ini dengan ditemani lingkaran kerinduan dan akupun memadukannya dengan keceriaan walau yang ada hatiku masih pilu dengan keadaan ini tapi kau tak perlu tahu.
Hai calon kekasih halalku....
Apa kabar?
Aku harap dengan bagaimanapun kegiatanmu, kamu selalu terjaga. Do’aku selalu buat kamu.
Aku rindu kamu, selalu nunggu kamu, aku harap kamu juga. cepat pulang dan lamar aku dengan segala usahamu selama ini, hehe.
Aku rindu sangat rindu. Seandainya rindu bisa dijual, aku sudah kaya raya sekarang.
Semangat belajar ya sayang, biar bisa jadi imam yang baik buat aku, buat anak-anak kita kelak. Hehe.
Jangan tanya keadaanku sekarang, aku sangat luar biasa baiknya. Kalaupun aku sakit jangan khawatir karena setiap membaca kata dalam tulisanmu saja aku langsung sembuh, karena kamu obat aku.
Jaga diri, jaga hati, dan jaga iman kamu buat aku.
                                              Salam dari hati, Adeline.
            Tanpa pikir panjang langsung saja aku kirim surat itu lewat email, aku harap dengan menulis seperti itu hatiku menjadi sedikit tenang tanpa ada tekanan. Walaupun rindu itu selalu melarangku ketika restu belum didapatkan.
Dijamanmodern seperti ini hanya email saja yang bisa membantu kami berkasih sayang, bersalam rindu. Kami saling sibuk, sangat sibuk.Kenan kuliah di Perancis sedangkan aku sekolah menengah atas di Indonesia dengan keadaan kurikulumnya dan perbedaan waktu yang ada. Jadi mana bisa bertukar suara di telpon setiap hari, mengirim sms setiap menit, untuk mengirim email saja harus menunggu situasi yang enak. Namun walau berbeda benua, hati harus selalu sama. Mencinta.
            Di perpustakaan umum aku duduk sendiri, melamunkan segala masalah yang sedang mencakar otakku. Rasanya hari ini aku tak ingin pulang, aku tak ingin masalah itu menghantuiku lagi. Bukan karena keadaan rumah, broken home juga bukan. Entah mengapa mendengar kata rumah aku langsung ngilu, seakan rumah tak berjodoh dengan takdir cinta yang dipagari jarak dan ditutupi restu.
***
            Hari mulai sore, perpustakaan umum pun sudah ditutup. Aku memilih berjalan menyusuri trotoar kota melawan arus jalan pulang sambil termenung. Merenungi nasib cinta dan keadaan. Ah aku rindu, dan rindu itu pula memaksaku untuk bertahan dengan segala permasalahan.
            Di tengah perjalanan aku berhenti di Masjid Agung, merebahkan sejenak badan sambil menunggu adzan maghrib datang. Ini tempat suci favorit Kenan saat di Indonesia, setiap mengajakku jalan-jalandia selalu menumpahkan segala do’anya di sini ketika waktu sholat datang. Karena kita percaya, Tuhan kita Allah telah memberi jalan takdir kepada umatNya, dan aku sebagai makhluk ciptaanNya hanya bisa memohon do’a dan berharap Kenan benar-benar jodohku tanpa ada pengecualian.
            Pandanganku seketika menuju sebuah rumah kecil depan masjid ini, dari kejauhan aku melihat wanita tua yang dirasa memperhatikanku. Dari dulu setiap di sini selalu ada wanita itu entah hanya lewat, melihatnya menyapu latar, ataupun hanya duduk di depan rumahnya. Namun aku tak pernah mengenalnya bahkan aku tak pernah melihat wanita itu berbicara pada orang lain. Mukanya mendomisili jawa sedikit arab, kalau dilihat dari posturnya wanita itu berumur sekitar setengah abad.
            Wanita itu dari tadi tetap saja tidak merubah pandangan misteriusnya dariku, bulu kudukku seketika berdiri. Pikiran-pikiran suudzon datang seketika "jangan-jangan dia psikopat yang akan membunuhku?" gumamku dalam ragu. Rasanya seketika aku ingin teriak dan lari, namun ada perasaan penasaran pada wanita itu.
            Dengan langkah ragu, aku mencoba mendatanginya, senyum tipis dari bibirnya menyambut kedatanganku.
            "ibu dari tadi lihat-lihat saya ada apa?" tanyaku memberanikan diri membuka obrolan seraya memasang ancang-ancang, siapa tau orang ini benar psikopat.
            "aku tak melihatmu tadi." Jawabnya santai.
            "gak ngelihat? Jelas-jelas tadi bola mata ibu tertuju ke aku. Jangan macem-macem ya." terangku sedikit menggertak agar wanita ini jera.
            "hahaha kau kira aku ini penjahat yang akan membunuhmu? Aku dari tadi melihat rindu yang ada di wajahmu." Terangnya sedikit mentertawai perkiraanku.
            "alah tak usah omong kosong, kamu pasti dari dulu sudah mengincarku bukan?" tanyaku semakin menggertak dan harus semakin berhati-hati, mana mungkin dia tahu apa yang sedang terjadi padaku.
            "buat apa aku mengincar gadis lusuh sepertimu, aku itu wanita perindu sepertimu jadi aku pun mengerti wajah seseorang yang sedang merindu." Jawabnya membuatku menganga, mendengar perkataannya aku seperti sedang menemui orang sawan saja, mana ada manusia seperti ini.
            "hei mingkem! Kenapa? kaget? Tak percaya?" tanyanya kepadaku yang masih tak habis pikir.
            "ibu sehat?" tanyaku seraya melihat keadaanya.
            "heh kurang ajar nganggep aku gila. Aku memang ditakdirkan sebagai wanita perindu, setiap hari merindukan seseorang sehingga akupun hafal betul wajah seorang yang sedang sepertiku. Dan rinduku terjadi lagi waktu melihatmu." Jelasnya mengungkap.
            "oh gitu, siapa sih orang yang dirindu sejak dulu? Memang segala hal yang mengingatkan sesuatu terhadap orang yang dicinta akan menjadi rindu dan berakhir kelabu." Jawabku sedikit tertawa, mendengar kata rindu seketika otak dan hati mengingat pada Kenan. Lagi-lagi Kenan, lelaki itu memang sudah meracuni otakku.
            "anakku meninggal 4 tahun yang lalu, wajahnya mirip kamu. Tapi tak seharusnya hal yang dirindukan menjadi kelabu setiap harinya." Terangnya membuatku terhening.
            "innalillahi, yang tabah ya bu semuanya akan kembali kepadaNya. mengapa? Bukannya kelabu itu sponsor rindu, kalau tak kelabu tak mungkin itu disebut rindu."
"aku selalu tabah. Jika rindumu hanya disponsori kelabu yang ada hidupmu semu dan orang yang dirindu tak ingin kita merindu."
            "lalu aku harus bagaimana untuk menghilangkan kelabu dalam kerinduan?" tanyaku semakin heran.
            "percaya kerinduan akan hilang, karena ada waktunya rindu hilang dan diganti bertemu."
            "aku sudah percaya, dan aku pun akan menghilangkan rindu itu." terangku mantap.
            "jadi kamu akan menghilangkan rindu dengan cara menghampirinya? Siapa sih sang pembuat rindu?" tanyanya penasaran.
            "bukan, tapi ada sedikit pikiran untuk tak akan mengingat rindu lagi, karena pertemuan tak akan menyelesaikan masalahku. Dia seorang lelaki sang pencuri hati yang suka mengusik hati. Aku rindu dia yang ada di perantauan, namun rinduku ada diambang kepercumaan."
            "jadi akan mengakhiri hubungan? Mengakhiri segala perjuangan kamu selama ini? Konyol sekali. Kenapa percuma?" tanya si Ibu sambil mengerutkan dahi, dia seakan tak percaya aku menjawab seperti itu.
            Pertanyaan ini membuatku mengalihkan pandangan, entah mengapa semua orang menganggap salah jika aku mengambil keputusan seperti itu. apa salahnya mengakhiri hubungan yang tak pernah bertemu. Kalaupun bertemu, siapa yang akan mengizinkan pertemuan itu ada ketika restu tak sampai ditangan kami berdua. Aku bukan hanya merindu, namun juga mencinta tanpa restu.
            "iya, mulai sekarang ingin aku akhiri keadaan yang melibatkan jarak. Karena jarak mempersulit keadaan dan membuat kacau segalanya." Terangku tegas dan tetap tak mengalah, karena sekarang aku mengerti semua ini akan percuma bila tak ada restu yang mendampingi.
            "sebenarnya apa masalahmu yang membuat jarak dan rindu disalahkan?" lagi-lagi pertanyaan yang mematikan, membuatku tak bisa menjawabnya bukan karena tak ada jawaban namun aku tak ingin orang lain tahu akan masalah ini yang bukan lain adalah restu.
            "yang pasti masalah ini sangat berat, makanya aku tak ingin rindu itu terus mengalir dalam kesia-siaan." Jawabku sekenanya, seraya berjalan pergi agar tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang menjerumus lebih dalam.
            "tunggu" ucapnya menahan. "mungkin kamu tak mau cerita, tapi setidaknya kalau kamu sedang tak bersahabat dengan rindu coba hampiri kenangan agar merasakan betapa hangatnya rindu dicampur kenangan." Terangnya sedikit berteriak.
            Seketika hatikupun terhentak dengan kata-kata kenangan, ah iya hampir saja aku melupakannya hanya karena masalah ini. Seketika akupun lari kembali ke Masjid untuk sejenak mengadahkan tangan seraya berdo’a lalu segera pergi mencari kenangan yang telah ada dan selalu ada, tak lupa akupun meninggalkan senyum lembut ke wanita itu dan meneriakkan kata "terima kasih bu."
***
            Senja semakin mulai pudar dan aku mulai berjalan menyusuri kenangan. Dengan kenangan akupun jadi semakin mengerti seberapa jauh kita melangkah untuk bertahan merindu,walaupun yang ada rindu ini harus tetap bersikap lugu danselalu digugu namun tak boleh gagu akan segala kelabu masalah hidup yang menerpa. Karena terpaan itu harus kita hindari dengan jurus sabar. Rindu tak selamanya menjadi kelabu, namun rindu itu madu yang alami adanya tapi tetap manis walaupun saat mengambilnya harus dengan usaha saat melewati lebah-lebah yang bisa menyengat kapan saja.
            Tentang masalah restu, aku serahkan apa adanya kepada Tuhanku, walaupun ridho Allah itu tergantung pada ridho orangtua namun aku yakin selama aku berikhtiar dan bertawakal dengan Allah, ridho itu akan datang sendiri dari kedua-duanya. karena masalah jodoh itu ada ditangan Tuhan dan berharap jodohku itu kamu.
            Hpku tiba-tiba berbunyi disela-sela perjalanan, ada satu kiriman emailsiapa lagi kalau bukan dari sang kekasih hati,
Hai bidadari surgaku...
aku baik, dengan do’a yang selalu mengalir dari hatimu.
Oiya, aku baru saja belajar pendalaman ilmu jarak dan akupun menafsirkannya melalui kehidupan nyata, jika mencari jarak maka kecepatan harus dibagi waktu,
Seperti itu pula aku yang harus mengoptimalkan kecepatan otakku agar bisa dibagi dengan waktu yang sesingkat mungkin agar jarak bisa semakin dekat.
Maka maafkan aku yang selalu membuatmu merindu akan keadaanku disini karena aku terlalu sibuk mengoptimalkan tugasku untuk cepat bertemu denganmu.
Do’akan agar studyku di sini cepat selesai. Bisa segera melamarmu dan yakinkan aku untuk bisa memegang omonganku.
Sabar akan masalah kita di Indonesia, aku janji jika pulang masalah akan terselesaikan dan kita akan terus bersama. Ikhtiar dan tawakal kepada Allah, maka restu itu akan mengalir sendiri.
Jauhkan segala jenuh tentang permasalahan jarak ya sayang dan jaga rindu itu untukku.
Dan jangan pernah salahkan jarak, tanpa jarak kita tak akan pernah mengerti apa itu rindu yang dicampur dengan kasih sayang.
Aku tetap menjaga hati ini untukmu.
One step closer to meet you, and I will not let anything take away, always love you, Adeline.
                                                          salam rindu,
                                                                                    Kenan miliknya Adeline.
Senyum kebahagiaan pun merekah lebar dari bibirku, dan senja akhirnya menjadi saksi akan hadirmu dalam peluk rinduku. Menghilangkan segala pikiran buruk akan jarak yang jauh dan masalah yang hampir saja mencabik hati, yang pasti aku dan kamu harus selalu satu dengan tetap bersama rindu, terima kasih rindu.

Minggu, 26 Januari 2014

Berubah

Diposting oleh Unknown di 04.20 0 komentar

Kalian pernah kan nonton film power ranger, tontonannya anak kecil yang isinya tentang pahlawan pembela kebenaran yang berubah ketika ngelawan musuh jahatnya.

Akhir-akhir ini gue sering mikir "gue bakal punya suami kaya apa ya? Bakalan punya anak berapa? Bakalan jadi apa? Muka tua gue kaya apa? Dan kenapa hidup gue gini-gini aja?" Pernah ga sih kalian mikir gitu? Atau cuman gue aja yang over think sampe kebawa saat situasi enak buat ngalamun.
Gue berasa hidup gini mulu gaada perubahan. Ngeliat orang-orang yang jadi momok gue selama ini contohnya radityadika dan ariefmuhammad dulu dia cengcengin orang pacaran sekarang mereka udah punya pacar tapi idup gue sekarang sama yang dulu masih gini-gini aja.
Yaemang diluar gue have fun dan ngelakuin hal baru sama temen-temen, ngelakuin hal absurd, ngelakuin hal yang bikin orang annoying sama gue, di rumah ngerecokin semuanya tapi disaat gue sendiri tiba-tiba semuanya kaya yang hilang gitu aja ngerasa kalo hidup gue gini-gini aja. Gue suka ngebayangin masa depan tanpa ngelupain masa lalu dan tanpa ngelakuin perubahan.
Nah semenjak gue nonton power ranger ini gue ngerasa harus wajib kudu ngelakuin perubahan demi kebaikan dengan cara apapun itu, nyesel seumur-umur kenapa baru nonton baru-baru ini seenggaknya kalo nonton dari jaman gozilla gue udah ngelakuin hal-hal yang bikin gue berubah dan gak gini-gini aja.
Misi gue kali ini berubah dan menata perlahan-lahan hidup buat hasil kedepan tanpa ngeliat kebelakang lagi, berusaha keluar dan belajar dari lingkaran kenangan, dan memasrahkan semuanya sama Allah SWT karena gue hidup cuman buat Tuhan gue. Doakan!

 

Happiness Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos