TERIMA KASIH RINDU
Dinda Rizkyta
Kutuliskan
surat untukmu siang ini dengan ditemani lingkaran kerinduan dan akupun
memadukannya dengan keceriaan walau yang ada hatiku masih pilu dengan keadaan
ini tapi kau tak perlu tahu.
Hai calon kekasih
halalku....
Apa kabar?
Aku harap dengan
bagaimanapun kegiatanmu, kamu selalu terjaga. Do’aku selalu buat kamu.
Aku rindu kamu, selalu
nunggu kamu, aku harap kamu juga. cepat pulang dan lamar aku dengan segala
usahamu selama ini, hehe.
Aku rindu sangat rindu.
Seandainya rindu bisa dijual, aku sudah kaya raya sekarang.
Semangat belajar ya
sayang, biar bisa jadi imam yang baik buat aku, buat anak-anak kita kelak.
Hehe.
Jangan tanya keadaanku
sekarang, aku sangat luar biasa baiknya. Kalaupun aku sakit jangan khawatir
karena setiap membaca kata dalam tulisanmu saja aku langsung sembuh, karena
kamu obat aku.
Jaga diri, jaga hati,
dan jaga iman kamu buat aku.
Salam dari hati,
Adeline.
Tanpa pikir panjang langsung saja
aku kirim surat itu lewat email, aku harap dengan menulis seperti itu hatiku
menjadi sedikit tenang tanpa ada tekanan. Walaupun rindu itu selalu melarangku
ketika restu belum didapatkan.
Dijamanmodern seperti ini hanya
email saja yang bisa membantu kami berkasih sayang, bersalam rindu. Kami saling
sibuk, sangat sibuk.Kenan kuliah di Perancis sedangkan aku sekolah menengah
atas di Indonesia dengan keadaan kurikulumnya dan perbedaan waktu yang ada.
Jadi mana bisa bertukar suara di telpon setiap hari, mengirim sms setiap menit,
untuk mengirim email saja harus menunggu situasi yang enak. Namun walau berbeda
benua, hati harus selalu sama. Mencinta.
Di perpustakaan umum aku duduk
sendiri, melamunkan segala masalah yang sedang mencakar otakku. Rasanya hari
ini aku tak ingin pulang, aku tak ingin masalah itu menghantuiku lagi. Bukan
karena keadaan rumah, broken home juga bukan. Entah mengapa mendengar kata
rumah aku langsung ngilu, seakan rumah tak berjodoh dengan takdir cinta yang
dipagari jarak dan ditutupi restu.
***
Hari mulai sore, perpustakaan umum
pun sudah ditutup. Aku memilih berjalan menyusuri trotoar kota melawan arus
jalan pulang sambil termenung. Merenungi nasib cinta dan keadaan. Ah aku rindu,
dan rindu itu pula memaksaku untuk bertahan dengan segala permasalahan.
Di tengah perjalanan aku berhenti di
Masjid Agung, merebahkan sejenak badan sambil menunggu adzan maghrib datang.
Ini tempat suci favorit Kenan saat di Indonesia, setiap mengajakku jalan-jalandia
selalu menumpahkan segala do’anya di sini ketika waktu sholat datang. Karena
kita percaya, Tuhan kita Allah telah memberi jalan takdir kepada umatNya, dan
aku sebagai makhluk ciptaanNya hanya bisa memohon do’a dan berharap Kenan
benar-benar jodohku tanpa ada pengecualian.
Pandanganku seketika menuju sebuah
rumah kecil depan masjid ini, dari kejauhan aku melihat wanita tua yang dirasa
memperhatikanku. Dari dulu setiap di sini selalu ada wanita itu entah hanya
lewat, melihatnya menyapu latar, ataupun hanya duduk di depan rumahnya. Namun
aku tak pernah mengenalnya bahkan aku tak pernah melihat wanita itu berbicara
pada orang lain. Mukanya mendomisili jawa sedikit arab, kalau dilihat dari
posturnya wanita itu berumur sekitar setengah abad.
Wanita itu dari tadi tetap saja
tidak merubah pandangan misteriusnya dariku, bulu kudukku seketika berdiri.
Pikiran-pikiran suudzon datang seketika "jangan-jangan dia psikopat yang
akan membunuhku?" gumamku dalam ragu. Rasanya seketika aku ingin teriak
dan lari, namun ada perasaan penasaran pada wanita itu.
Dengan langkah ragu, aku mencoba
mendatanginya, senyum tipis dari bibirnya menyambut kedatanganku.
"ibu dari tadi lihat-lihat saya
ada apa?" tanyaku memberanikan diri membuka obrolan seraya memasang
ancang-ancang, siapa tau orang ini benar psikopat.
"aku tak melihatmu tadi."
Jawabnya santai.
"gak ngelihat? Jelas-jelas tadi
bola mata ibu tertuju ke aku. Jangan macem-macem ya." terangku sedikit
menggertak agar wanita ini jera.
"hahaha kau kira aku ini
penjahat yang akan membunuhmu? Aku dari tadi melihat rindu yang ada di wajahmu."
Terangnya sedikit mentertawai perkiraanku.
"alah tak usah omong kosong,
kamu pasti dari dulu sudah mengincarku bukan?" tanyaku semakin menggertak
dan harus semakin berhati-hati, mana mungkin dia tahu apa yang sedang terjadi
padaku.
"buat apa aku mengincar gadis
lusuh sepertimu, aku itu wanita perindu sepertimu jadi aku pun mengerti wajah
seseorang yang sedang merindu." Jawabnya membuatku menganga, mendengar
perkataannya aku seperti sedang menemui orang sawan saja, mana ada manusia
seperti ini.
"hei mingkem! Kenapa? kaget?
Tak percaya?" tanyanya kepadaku yang masih tak habis pikir.
"ibu sehat?" tanyaku
seraya melihat keadaanya.
"heh kurang ajar nganggep aku
gila. Aku memang ditakdirkan sebagai wanita perindu, setiap hari merindukan
seseorang sehingga akupun hafal betul wajah seorang yang sedang sepertiku. Dan
rinduku terjadi lagi waktu melihatmu." Jelasnya mengungkap.
"oh gitu, siapa sih orang yang
dirindu sejak dulu? Memang segala hal yang mengingatkan sesuatu terhadap orang
yang dicinta akan menjadi rindu dan berakhir kelabu." Jawabku sedikit
tertawa, mendengar kata rindu seketika otak dan hati mengingat pada Kenan.
Lagi-lagi Kenan, lelaki itu memang sudah meracuni otakku.
"anakku meninggal 4 tahun yang
lalu, wajahnya mirip kamu. Tapi tak seharusnya hal yang dirindukan menjadi
kelabu setiap harinya." Terangnya membuatku terhening.
"innalillahi, yang tabah ya bu
semuanya akan kembali kepadaNya. mengapa? Bukannya kelabu itu sponsor rindu,
kalau tak kelabu tak mungkin itu disebut rindu."
"aku selalu tabah. Jika rindumu
hanya disponsori kelabu yang ada hidupmu semu dan orang yang dirindu tak ingin
kita merindu."
"lalu aku harus bagaimana untuk
menghilangkan kelabu dalam kerinduan?" tanyaku semakin heran.
"percaya kerinduan akan hilang,
karena ada waktunya rindu hilang dan diganti bertemu."
"aku sudah percaya, dan aku pun
akan menghilangkan rindu itu." terangku mantap.
"jadi kamu akan menghilangkan
rindu dengan cara menghampirinya? Siapa sih sang pembuat rindu?" tanyanya
penasaran.
"bukan, tapi ada sedikit
pikiran untuk tak akan mengingat rindu lagi, karena pertemuan tak akan
menyelesaikan masalahku. Dia seorang lelaki sang pencuri hati yang suka
mengusik hati. Aku rindu dia yang ada di perantauan, namun rinduku ada diambang
kepercumaan."
"jadi akan mengakhiri hubungan?
Mengakhiri segala perjuangan kamu selama ini? Konyol sekali. Kenapa
percuma?" tanya si Ibu sambil mengerutkan dahi, dia seakan tak percaya aku
menjawab seperti itu.
Pertanyaan ini membuatku mengalihkan
pandangan, entah mengapa semua orang menganggap salah jika aku mengambil
keputusan seperti itu. apa salahnya mengakhiri hubungan yang tak pernah
bertemu. Kalaupun bertemu, siapa yang akan mengizinkan pertemuan itu ada ketika
restu tak sampai ditangan kami berdua. Aku bukan hanya merindu, namun juga
mencinta tanpa restu.
"iya, mulai sekarang ingin aku
akhiri keadaan yang melibatkan jarak. Karena jarak mempersulit keadaan dan
membuat kacau segalanya." Terangku tegas dan tetap tak mengalah, karena
sekarang aku mengerti semua ini akan percuma bila tak ada restu yang
mendampingi.
"sebenarnya apa masalahmu yang
membuat jarak dan rindu disalahkan?" lagi-lagi pertanyaan yang mematikan, membuatku
tak bisa menjawabnya bukan karena tak ada jawaban namun aku tak ingin orang
lain tahu akan masalah ini yang bukan lain adalah restu.
"yang pasti masalah ini sangat
berat, makanya aku tak ingin rindu itu terus mengalir dalam kesia-siaan."
Jawabku sekenanya, seraya berjalan pergi agar tak ada lagi
pertanyaan-pertanyaan yang menjerumus lebih dalam.
"tunggu" ucapnya menahan. "mungkin
kamu tak mau cerita, tapi setidaknya kalau kamu sedang tak bersahabat dengan
rindu coba hampiri kenangan agar merasakan betapa hangatnya rindu dicampur
kenangan." Terangnya sedikit berteriak.
Seketika hatikupun terhentak dengan
kata-kata kenangan, ah iya hampir saja aku melupakannya hanya karena masalah
ini. Seketika akupun lari kembali ke Masjid untuk sejenak mengadahkan tangan
seraya berdo’a lalu segera pergi mencari kenangan yang telah ada dan selalu
ada, tak lupa akupun meninggalkan senyum lembut ke wanita itu dan meneriakkan
kata "terima kasih bu."
***
Senja semakin mulai pudar dan aku
mulai berjalan menyusuri kenangan. Dengan kenangan akupun jadi semakin mengerti
seberapa jauh kita melangkah untuk bertahan merindu,walaupun yang ada rindu ini
harus tetap bersikap lugu danselalu digugu namun tak boleh gagu akan segala
kelabu masalah hidup yang menerpa. Karena terpaan itu harus kita hindari dengan
jurus sabar. Rindu tak selamanya menjadi kelabu, namun rindu itu madu yang alami
adanya tapi tetap manis walaupun saat mengambilnya harus dengan usaha saat
melewati lebah-lebah yang bisa menyengat kapan saja.
Tentang masalah restu, aku serahkan
apa adanya kepada Tuhanku, walaupun ridho Allah itu tergantung pada ridho orangtua
namun aku yakin selama aku berikhtiar dan bertawakal dengan Allah, ridho itu
akan datang sendiri dari kedua-duanya. karena masalah jodoh itu ada ditangan
Tuhan dan berharap jodohku itu kamu.
Hpku tiba-tiba berbunyi disela-sela
perjalanan, ada satu kiriman emailsiapa lagi kalau bukan dari sang kekasih
hati,
Hai bidadari surgaku...
aku baik, dengan do’a
yang selalu mengalir dari hatimu.
Oiya, aku baru saja
belajar pendalaman ilmu jarak dan akupun menafsirkannya melalui kehidupan
nyata, jika mencari jarak maka kecepatan harus dibagi waktu,
Seperti itu pula aku
yang harus mengoptimalkan kecepatan otakku agar bisa dibagi dengan waktu yang sesingkat
mungkin agar jarak bisa semakin dekat.
Maka maafkan aku yang
selalu membuatmu merindu akan keadaanku disini karena aku terlalu sibuk
mengoptimalkan tugasku untuk cepat bertemu denganmu.
Do’akan agar studyku di
sini cepat selesai. Bisa segera melamarmu dan yakinkan aku untuk bisa memegang
omonganku.
Sabar akan masalah kita
di Indonesia, aku janji jika pulang masalah akan terselesaikan dan kita akan
terus bersama. Ikhtiar dan tawakal kepada Allah, maka restu itu akan mengalir
sendiri.
Jauhkan segala jenuh tentang
permasalahan jarak ya sayang dan jaga rindu itu untukku.
Dan jangan pernah
salahkan jarak, tanpa jarak kita tak akan pernah mengerti apa itu rindu yang
dicampur dengan kasih sayang.
Aku tetap menjaga hati
ini untukmu.
One
step closer to meet you, and I will not let anything take away, always love
you, Adeline.
salam rindu,
Kenan
miliknya Adeline.
Senyum kebahagiaan pun merekah
lebar dari bibirku, dan senja akhirnya menjadi saksi akan hadirmu dalam peluk
rinduku. Menghilangkan segala pikiran buruk akan jarak yang jauh dan masalah yang hampir saja mencabik hati, yang pasti aku dan kamu harus
selalu satu dengan tetap bersama rindu, terima kasih rindu.
0 komentar:
Posting Komentar