Entah harus darimana aku memulai menulis, yang pasti kau tak ingin tahu bukan.
Hari
ini aku sendiri, melamunkan masa depan yang tak kunjung datang dan memikirkan
sesorang yang tak nampak pada bayang. Entah tak tahu bagaimana cara memikirkanmu, bahkan
bayangan siluetpun tak bisa memforsirkan cahayanya untuk melukiskan raut mukamu
yang sudah lama aku tunggu.
Lagi
dan lagi aku bergemi, menggerutu nasib hidup dan keadaan. Saat dimana aku ingin
bahagia namun kau tak bisa membuatnya, lalu aku bisa apa. Aku cukup tahu diri,
membatasi perasaan kepada seseorang yang tak tahu dimana letak hatinya. Memfosirkan
hati sebaik mungkin agar aku tak larut terlalu dalam kedalam buaiannya.
Aku
berusaha tak takluk dan takut semua oceh akan apa itu cinta padamu, dan akhirnya aku
pun mengabaikanmu walau itu sebenarnya bentuk perhatian. Dan pura-pura ragu
akan perasaan. Aku rasa ini terlalu berpura-pura, apa itu salah?
Namun
semua itu gagal, kau berhasil membuatku terpana akan asmara walau tanpa suara. Tulisanmu,
perhatianmu itu cukup membuatmu selalu ada walau tak nampak. Aku bahagia,
walau dalam bisu perhatianmu.
Terjebak
dalam perasaan-perasaan fana yang tidak bisa ditafsirkan oleh ruang dan kata, mungkin
karena aku terlalu bahagia. Membuang waktu hanya untuk menunggu dan menunggu,
tapi aku cukup sabar. Penat memang, tapi aku cukup nikmat. Sendu, yakin ini
hanya masalah rindu.
Rindu,
hahahahahaha lucu. Tak pernah membuat kesan tapi memberikan rindu. Aku cukup
lugu dengan segala buaianmu dan akhirnya aku tersadar, cepat atau lambat pertemuan
sangat dibutuhkan agar semakin tau akan perasaan hati bahwa ini bukan main-main,
hatiku bukan game fantasi kau perlu tau.
Lalu
aku berusaha mencari celah hatimu, membaca dalam setiap rangkai pesan singkatmu
akan tekatmu untuk bertemu. Namun, ini hanya andai-andai saja. Membuat isyarat-isyarat
untuk bertemu rasanya susah, kamu cukup dingin dan aku tidak bisa memberi
kehangatan. aku sedikit kelelahan.
Kadang
aku berfikir, angan dan tujuanku sangat berlebih. Aku sepertinya terjebak dalam
ruang friendzone. Hanya itu dan tak lebih. Atau sebenarnya hatimu lebih namun
kau yang meragu? Aku
bingung, makanya aku butuh pertemuan.
Berharap,
aku tetap berharap. Entah bagaimana caraku mengucap namun ini dari hati yang
terdalam bahwa aku sangat mengharapkanmu. Sosok lelaki penaruh hati........
Aku
salah, mungkin ini hanya salah paham. Kau berfikir bahwa aku acuh, aku juga
sebaliknya. Kita sama. Makanya mungkin ini yang disebut jodoh. Sama-sama saling
memikirkan tapi tak saling percaya. Cinta kita aneh bukan, kita? Memang kamu iya? Harapan.
Terkadang
aku menghadap ke masa lalu, adakah kesalahan ketik yang membuat hatimu ragu
untuk bertemu, atau kamu masih malu. Ini sungguh teka-teki. Sebegitu kurang
peka kah kamu akan keadaan hatiku, atau aku yang tak peka. Aku bingung, karena aku
tak bisa membaca air wajahmu yang sesungguhnya, tak bisa mendengar detak jatungmu, menatap matamu, dan melihat senyummu dari dekat.
Dan
akhirnya, kamu membuatku benar-benar lelah untuk mencintai. Harapan, angan,
tekad, dan petemuan harus aku telan mati-matian.
Sungguh
aku tak mengerti harus bagaimana, bahkan air mataku tak bisa menjawab perasaan
kesalku, dan lalu aku cukup malas untuk melanjutkan cerita hati ini...... terimakasih setidaknya aku merasa dimiliki lewat hati tanpa
menatap mesra.
Dear crush, aku butuh kamu
sekarang.
0 komentar:
Posting Komentar